song

Sabtu, 11 Januari 2014

Paradigma Pendidikan dan Implikasinya Terhadap Metode dan Praktek Pendidikan


Proses pendidikan baik formal maupun non formal pada dasrnya memiliki peran penting melegitimasi bahkan melanggengkan sistem dan struktur social yang ada, juga sebaliknya merupakan proses perubahan social yang lebih adil. Peran pendidikan terhadap sistem dan struktur social tersebut sangat bergantung pada paradigma pendidikan yang mendasarinya. Untuk memahami kedua paradigma tersebut, perlu dipahami terlebih dahulu ideology social dan implikasinya terhadap berbagai teori pendidikan yang dianut masing-masing. Berikut ini dibahas berbagai paradigma, ideology, teori dan implikasinya terhadapa pilihan teknik proses belajar mengajar dalam pendidikan. Untuk itu pembahasan paradigma ini akan difokuskan ke dalam tiga aspek, yakni:
  • Paradigma teori pendidikan
  • Implikasi paradigma pendidikan terhadap metodologi pendidikan
  • Implikasinya terhadap model pendekatan dan teknik pendidikan.
Perlu dibahas terlebih dahulu berbagai aliran pendekatan pendidikan. Pemetaan aliran pendidikan yang dipergunakan disini adalah mengikuti Giroux and Aronowitz (1985) yang mengkategorikan pendekatan pendidikan menjadi tiga aliran, yakni pendekatan konservatif, liberal dan kritis serta mengupas bagaimana masing-masing paradigma pendidikan tersebut berimplikasi terhadap sub sistem pendidikan lainnya.

PARADIGMA/
METODE

KONSERVATIF
LIBERAL
RADIKAL
IMPLIKASI
KESADARAN
PEDAGOGI

1
2
3
MAGIS
ANDRAGOGI

4
5
6
NAIF
DIALOGIS

7
8
9
KRITIS


Paradigma Konservatif

Bagi kaum konservatif, ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu hokum keharusan alami, suatu hal yang mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahakan takdir tuhan. Perubahan social bagi mereka bukanlah suatub yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Dalam bentuknya yang klasik atau awal paradigma konservatif dibangun berdasrkan keyakinan bahwa masyarakat pada dsarnya tidak bisa merencanakan perubahan arau mempengaruhi perubahan social, hanya Tuhanlah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dialah yang tahu makna dibalikitu semua. Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif lama tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka.
      Namun dalam perjalanan selanjutnya, paradigma konservatif cenderung lebih menyalahkan subjeknya. Bagi kaum konservatif, mereka yang menderita, yakni orang-orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Karena toh banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Bnayak orang ke sekolah dan belajar untuk berperilaku baik, dan oleh karenanya tidak dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu samapai giliran mereka dating, karena pada akhirnya kelak semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan. Kaum konservatif sangat melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat dan menghindarkan konflik dan kontradiksi.


Paradigma Liberal

Golongan kedua yakni kaum Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan juga tidak ada sangkut pautnya dengan persolan politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian, kaum Liberal selalu berusaha menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di uar pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi “kosmetik”. Umumnya yang dilakukan adalah seperti: perlunya membangun fasilitas dan kelas baru, memodernkan peralatan sekolah dengan pengadaan computer yang lebih canggih dan laboratorium, serta berbagai uasaha untuk menyehatkan rasio guru-murid. Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih efisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics) ‘learning by doing’, experimental learning’, ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan sebagainya. Usaha peningkatan tersebut terisolasi dengan sistem dan struktur ketidakadilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat.
      Kaum konservatif dan Liberal sama-sama berpendirian bahwa pendidikan adalah a-politik, dan “excellence” haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum Liberal beranggapan bahwa masalah masyarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender di masyarakat luas. Bahkan pendidikan menurut salah satu aliran Liberalyakni structural functionalisme justru dimaksud sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan justru dimaksudkan sebagai media untuk mensisialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyak8inan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.
      Pendekatan Liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan baik pendidikan formal seperti sekolah, maupun pendidikan non formal seperti berbagai macam pelatihan. Akar dari pendidikan ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedom) serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan social secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Konsep pendidikan dalam tradisi Liberal berakar pada cita-cita Barat tentang individualisme. Ide politik Liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas menengah yang diuntungkan oleh Kapitalisme. Pengaruh Liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat komponen-komponennya. Komponen pertama, adalah komponen pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yakni model manusia Amerika dan Eropa. Model tipe ideal mereka adalah manusia “rationalis liberal”, seperti: pertama bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual, Kedua baik tatanan alam maupun norma social dapat ditangkap oleh akal. Ketiga adalah “individualis” yakni adanya anggapan bahwa manusia adalah atomistic dan otonom (Bay, 1998). Menempatkan individu secara atomistic, membawa pada keyakinan bahwa hubungan social sebagai kebetulan, dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.
      Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui proses persaingan antar murid. Perangkingan untuk menentukan murid terbaik, adalah implikasi dari paham pendidikan ini. Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat dalam berbagai pendekatan “andragogy” seperti dalam training management, kewiraswataan, manajemen lainnya. Achievement Motivation Training (AMT) yang diciptakan oleh David Mclelland adalah contoh terbaik pendekatan liberal. Mclelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidakl memiliki apa yang dinamakan N Ach. Oleh karena syarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlu virus “N Ach" yang membuat individu agresif dan rasional (Mclelland, 1961)4. Berbagai pelatihan pengembangan masyarakat (Community Development) seperti usaha bersama, pertanian dan lain sebagainya, umumnya berpijak pada paradigma pendidikan liberal ini.
      Positivisme juga berpengaruh dalam pendidikan liberal. Positivisme sebagai suatu paradigma ilmu social yang dominant dewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu social yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alam memahami realitas. Positivisme  sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu-ilmu social yang dikembangkan dengan mengambila cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme dan generalisasi, melalui metode determinasi, ‘fixed law’ atau kumpulan hokum teori (Schoyer, 1973). Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tunggal dianggap ‘appropriate’ untuk semua fenomena. Oleh karena itu mereka percaya riset social ataupun pendidikan harus didekati dengan metode ilmiah, yakni objektif dan bebas nilai. Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus dikuantifisir dan diverifikasi dengan metode “scientific”. Dengan kata lain, positivisme mensyaratkan pemisahan fakta dan values dalam rangka menuju pada pemahaman objektif atas realitas social. Habermas, seorang penganut teori Kritik melakukan kritik terhadap positivisme dengan menjelaskan berbagai kategori pengetahuan sebagai berikut.5 Pertama, adalah apa yang disebutnya sebagai ‘instrumental knowledge’ atau positivisme dimana tujuan pengetahuan adalah untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi dan eksploitasi terhadap objeknya. Kedua, ‘hermeneutic knowledge’ atau interpretative knowledge, dimana tugas ilmu pengetahuan hanyalah untuk memahami. Ketiga adalah cirri ‘critical knowledge’ atau ‘emancipatory knowledge’ yakni suatu pendekatan yang dengan kedua pendekatan sebelumnya. Pendekatan ini menempatkan pengetahuan sebagai katalis untuk membebaskan potensi manusia. Paradigma pendidikan liberal pada dasarnya sangatlah positivistic.



Paradigma Kritis/ Radikal

Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan moderaqt, maka paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam ekonomi politik masyarakat dimana pendidikan berada.6 Bagi mereka kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan. Paham ini bertentangan dengan pandangan kaum liberal dimana pendidikan dianggap terlepas dari persoalan kelas dan gender yang ada dalam masyarakat.
      Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap ‘the dominant ideology’ kea rah transformaqsi social. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, serta dekonstruksi dan advokasi menuju sistem social yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin dan tidak bisa bersikap netral, bersikap objektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sisyem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistem social baru yang lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu mencipta ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisa secara bebas dan kritis untuk transformasi social. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah ‘memanusiakan ‘ kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.



Implikasi Paradigma Pendidikan Dalam Metodologi

Bagaimana implikasi ketiga pandangan pendidikan tersebut terhadap metodologi pendekatan pendidikan. Untuk itu saya meminjam analisis Freire (1970) dalam membagi ideology pendidikan dalam tiga kerangka yang didasarkan pada kesadaran ideology masyarakat.7 Meskipun Freire lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan, namun kerangka analisisnya banyak dipergunakan justru untuk melihat kaitan ideology dalam perubahan social. Tema pokok gagasan Freire pada dasarnya mengacu pada suatu landasan bahwa pendidikan adalah “proses memanusiakan manusia kembali”. Gagasan ini berangkat dari suatu anallisa bahwa sistem kehidupan social, politik, ekonomi, dan budaya, membuat masyarakat mengalami proses ‘dehumanisasi’. Pendidikan sebagai bagian dari sistem masyarakat justru menjadi pelanggeng proses dehumanisasi tersebut. Secara lebih rinci Freire menjelaskan proses dehumanisasi tersebut dengan menganalisis tentang kesadaran atau pandangan hidup masyarakat terhadap diri mereka sendiri. Freire menggolongkan kesadaran mausia menjadi: kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naïf (nival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness). Bagaimanaq kesadaran tersebut dan kaitannya dengan sistem pendidikan dapat secara sederhana diuraikan sebagai berikut.8
      Pertama kesadaran magis, yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu factor dengan factor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sitem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat factor diluar manusia (natural maupun supranatural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan. Dalam dunia pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisa terhadap suatu masalah maka proses belajar-mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistic. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistem dan struktur terhadapa suatu permasalahan masyarakat  Murid secara dogmatic menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada mekanismeuntuk memahami ‘makna’ ideology atas semua konsepsi atas kehidupan masyarakat.
      Yang Kedua adalah kesadaran naïf. Keadaan yang dikategorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, ‘need for achevementI’ dianggap sebagai penentu perubahan social. Jadi dalam menganalisa mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena ‘salah’ masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswastaan, atau tidak memiliki budaya ‘membangun’ dan seterusnya.9 Oleh karena itu, ‘man power development’ adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan bena, merupakan factor ‘given’ dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas pendidikan adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa beradaptasi dengan sitem yang sudah benar tersebut.
      Kesadaran Ketiga disebut sebagai kesadaran kritis. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan structural menghindari ‘blaming the victims’ dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari sitem social, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi “ketidakadilan” dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan melakukan analisis bagaimana sistem dan struktur itu bekerja. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik.



Implikasi Paradigma Pendidikan Pada Pendekatan Pendidikan:
Pedagogy VS Andragogy

Knowles (1970) secara sederhan menguraikan perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa dalam belajar sebagai model pendekatannya.10 Model penmdekatan tersebut diklasifikasikan menjadi dua bentuk pendekatan yang kontradiktif yakni antara pedagogy dan andragogy. Perbedaan kedua pendekatan pendidikan tersebut, tidak semata perbedaan “obyek”nya. Pedagogy sebagai seni mendidik anak ‘mendapat pengertian lebih luas dimana suatu proses pendidikan yang ‘menempatkan objek pendidikannya sebagai anak-anak, meskipun usia biologis mereka sudah termasuk dewasa. Konsekuensi logis dari pendekatan ini adalah menempatkan peserta didik sebagai “nurid yang pasif”. Murid sepenuhnya menjadi objek suatu proses belajar seperti misalnya: guru menggurui, murid digurui, guru memilihkan apa yang harus dipelajari, murid tundukl pada pilihan tersebut, guru mengevaluasi, murid dievaluasi dan seterusnya. Kegiatan belajar mengajar modela ini menempatkan guru sebagai inti terpenting sementara murid menjadi bagian pinggiran.
      Sebaliknya, andragogy  atau pendekatan pendidikan ‘orang dewasa’ merupakan pendekatan yang menempatkan peserta belajar sebagai ‘orang dewasa’. Dibalik pengertian ini Knowles ingin menempatkan ‘murid’ sebagai subjek dari sistem pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsukan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat, Memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyimpulkan serta mampu mengmbil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai “fasilitator”, dan bukan menggurui. Oleh karena itu relasi antara guru-murid bersifat’multicommunication’ dan seterusnya.11
      Sebagai pendekatan, andragogy dan pedagogy sering dipergunakan dalam ketiga paradigma magis, naif dan kritis tersebut. Banyak sekali dijumpai proses pendidikan yang magik atau naif, tetapi dilakukan dengan cara pendekatan andragogy. Perkawinan antara andragogy dan paradigma magis dan naif sesungguhnya adalah menghubungkan dua hal yang kontrdiktif. Pendidikan kritis mensyaratkan penggunaan andragogy sebagai pendekatan ketimbang pedagogy. Secara prinsipil meletakkan ‘anak didik’ sebagai ‘objek’ pendidikan adalah problem dehumanisasi. Sebaliknya pendidikan liberal yang bersifat individualis (blaming the victim) meskipun digunakan pendekatan andragogy, namun yang terjadi pada dasarnya adalah menjadikan pendidikan sebagai proses ‘menjinakkan’ untuk menyesuaikan ke dalam sitem dan struktur yang sudah mapan. “Penjinakan” sendiri sebenarnya bukan karakter dari andragogy.
Sebaliknya banyak juga pendidikan yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kritis namun dilakukan dengan cara pedagogy ataupun indoktrinasi. Meskipun materi pendidikan sesungguhnya menyangkut persoalan-persoalan mendasar tentang sistem dan struktur mayarakat, namun dalam proses pendidikannya lebih ‘banking concept of education’ bersifat indoktrinatif dan menindas. Indoktrinasi sendiri adalah anti-pendidikan dan pembunuhan sikap kritis manusia sehingga bertentangan dengan hakekat pendidikan kritis. Sehingga dengan demikian pendidikan kritis yang dilakukan secara pedagogy pada dasarnya adalah kontradiktif dan anti pendidikan.


Menuju Pendidikan Untuk Transformasi Sosial

Tradisi liberal telah mendominasi konsep pendidikan hingga saat ini. Paradigma liberal adalah menjadi bagian dari globalisasi ekonomi ‘liberal’ kapitalisme. Dalam konteks lokal, paradigma pendidikan liberal telah menjadi bagian dari sistem developmentalisme, dimana pada sistem tersebut ditegakkan pada suatu asumsi bahwa akar ‘underdevelopment’ karena rakyat tidak mampu terlibat dalam sistem kapitalisme. Pendidikan harus membantu peserta didik masuk dalam  sistem developmentalisme tersebut.
      Dengan agenda liberal seperti itu, maka tidak memungkinkan bagi pendidikan untuk menciptakan ruang (space) bagi sistem pendidikan untuk secara kritis mempertanayakan tentang, pertama struktur ekonomi, politik, ideology, gender, lingkungan serta hak-hak azasi manusia dan kaitannya dengan posisi pendidikan. Kedua, pendidikan untuk menyadari relasi pengetahuan sebagai kekuasaan (knowledge/power relation) menjadi bagian dari masalah demokratisasi. Tanpa mempertanayakan hal itu, tidak saja pendidikan gagal untuk menjawab akar permasalahan masyarakat tetepi justru melanggengkannya karena merupakan bagian pendukung  dari kelas, penindasan dan dominasi. Pendidikan dalam konteks itu tidaklah mentransformasi struktur dan sistem domonasi, tetapi sekedar menciptakan agar sistem yang ada berjalan baik. Dengan kata lain pendidikan justru menjadi bagian dari masalah dan gagal menjadi solusi.
      Kuatnya pengaruh filsafat positivisme dalam pendidikan dalam kenyataannya mempengaruhi pandangan pendidikan terhadapa masyarakat. Metode yang dikembangkan pendidikan mewarisi positivisme seperti objektifitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasionaldan bebas nilai juga mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan dan pelatihan.12 Pendidikan dan pelatihan dalam positivistic bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan ‘pasar kerja’. Pendidikan juga tidak toleran terhadap segala bentuk ‘non positivisticway of knowing’ yang disebut sebagai ilmiah. Pendidikan menjadi a historis,Yakni mengelaborasi model masyarakat dengan mengisolasi banayak variable dalam model tersebut. Murid dididik untuk pada struktur yang ada mencari cara-cara dimana peran, norma, dan nilai serta lembaga yang dapat diintegrasikan dalam rangka melanggengkan sistem tersebut. Asumsinya adalah bahwa tidak ada masalah dalam sistem yang ada, maslahnya terletak pada mentalitas anak didik, kreativitas, motivasi, keterampilan teknis, serta kecerdasan anak didik.
      Dari kerangka paradigma dan pendekatan pendidikan diatas, maka diperlukan suatu usaha untuk meletakkan dalam proses transformasi dalam keseluruhan sistem perubahan social. Setiap usaha pendidikan perlu melakukan transformasi hubungan antara fasilitator dengan peserta pendidikan. Untuk melakukan transformasi terhadap setiap usaha pendidikan perlu dilakukan analisa structural dan menempatkan posisi dimana sesungguhnya lokasi pemihakan usaha pendidikan dan pelatihan dalam struktur tersebut. Tanpa visi dan pemihakan yang jelas, setiap usaha pendidikan sesungguhnya sulit diharapkan menjadi institusi kritis menuju pada perubahan. Usaha pendidikan dan pelatihan juga perlu melakukan identifikasi issue strategis dan menetapkan, visi dan melanggengkan ketidakadilan.
      Selain itu, paradigma kritis juga berimplikasi terhadap metodologi dan pendekatan pendidikan serta proses belajar mengajar yang diterapkan. Pandangan kritis termasuk melakukan transformasi hubungan guru-murid dalam perspektif yang didominasi dan yang mendominasi. Dimana guru menjadi subjek pendidikan dan pelatihan sementara murid menjadi objeknya. “Subjection” yang menjadikan murid menjadi objek pendidikan dalam perspektif kritis adalah bagian dari problem dehumanisasi. Dengan kata lain paradigma pendidikan dan pelatihan kritis tidak saja ingin membebaskan dan mentransformasikan pendidikan dengan struktur diluarnya, tapi juga bercita-cita mentrasnsformasikan relasi ‘knoeledge/power dan dominasi hubungan yang ‘mendidik’ dan ‘yang dididik’ didalam pendidikan sendiri.
      Usaha pendidikan dan pelatihan sesungguhnya secara struktura adalah bagian dari sistem social, ekonomi dan politik yang ada. Oleh karena itu banyak orang pesimis untuk berharapa sebagai badan independent untuk berdaya kritis. Penganut paham ‘reproduksi’ dalam pendidikan umumnya percaya bahwa pendidikan sulit diharapkan untuk memerankan perubahan, melainkan mereka justru yang mereproduksi sistem yang ada atau hokum yang berlaku. Setiap upaya pendidikan haruslah  Dalam perspektif kritis, terutama alira produksi dalam pendidikan dan pelatihan, setiap upaya pendidikan haruslah menciptakan peluang untuk senantiasa mengembalikan fungsinya sebagai proses independent untuk transformasi social. Halini berarti prosespendidikan haris memberi ruang untuk menyingkirkan segenap ‘tabu’ untuk mempertanyakan secara kritis sitem dan struktur yang ada serta hokum yang berlaku. Sebaliknya, dalam rangka melakukan pendidikan kritis dalam prosesmelakukan trnsformasi social yang juga perlu dilakukan adalah mentransformasi dirinya mereka sendiri dahulu, yakni membongkar sstruktur tidak adil di dalam dunia pendidikan terlebih dahulu, yakni antara peserta dan fasilitator.



Pendidikan Kritis Apa Pula Itu ?
Pendidikan kritis pada dasarnya merupakan aliran, paham dalam dan pembebasan dan pemberdayaan. Perdebatan mnegenai peran pendidikan di lingkungan teoritisi dan praktisi yang merunut paham dan tradisi dari pemikiran kritis terhadap sistem kapitalisme dan dari tradisi pemikiran mereka yang mencita-citakan perubahan social dan struktural menuju masyarakat yang adil dan demokratis, suatu masyarakat tanpa eksploitasi dan penindasan, yakni seperti para penganut aliran gerakan social untuk keadila maupun golongan penganut paham dan teori kritik lainnya. Namun, ketika membahas peranan pendidikan dan peranannya dalam kaitan dengan perubahan social, mereka menjadi dua aliran menyangkut pendidikan- apakah pendidikan dapat digunakan sebagai media transformasi social.
  • Golongan pertama, adalah penganut paham “reproduksi”. Golongan ini sangat pesimis bahwa pendidikan mempunyai peran untuk perubahan social menuju transformasi social. Mereka menganut teori reproduksi. Golongan ini menganggap bahwa pendidikan dalam sistem kapitalisme berperan untuk mereproduksi sistem itu sendiri. Pendidikan akan melahirkan peserta didik yang akan memperkuat sistem dalam masyarakat. Sehingga mereka sangat pesimistis bahwa pendidikan akan mampu menjadi penyebab trnsformasi social.
  • Golongan kedua, yakni penganut paham produksi. Golongan ini, mayakini bahwa pendidikan mampu menciptakan ruang untuk tumbuhnya resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominant. Bukankah sebagian besar tokoh nasional dunia ketiga uang memimpin bangsa mereka untuk melawan penjajahan, kolonialisme dan imperialisme lahir dari hasil pendidikan oleh sistem pendidikan yang justru dimaksudkan untuk mempertahankan dan melanggengkan kolonialisme? Dengan demikian bagi penganut paham ini, pendidikan senantiasa mempunyai aspek pembebasan dan pemberdayaan, jika dilakukan melalui peoses yang membebaskan serta dilaksanakan dalam rangka membangkitkan kesadaran kritis. Pandangan pendidikan seperti itu yang akan mewariskan lahirnya aliran  pendidikan yang kita sebutkan sebagai pendidikan kritis.

Ada pijakan dasar tradisi pendidikan kritis yakni pemikiran dan paradigma kritik ideology terhadap sistem dan struktur social, ekonomi dan politik yang tidak adil. Dengan demikian pendidikan dalam perspektif paham ini merupakan media untuk resistensi dan aksi social yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian dari proses transformasi social. Maka pendidikan kritis merupakan proses perjuangan politik. Bagi penganut pendidikan kritis, diskriminasi gender, serta berbagai bentukketidakadilan social lainnya seperti hegemoni kulturakl dan politik serta dominasi melalui diskursus pengetahuan yang merasuk di dalam masyarakat, akan terefleksi dalam proses pendidikan, dan harus menjadi cermin kondisi social dalam dunia pendidikan. Dalam perspektif kritis, proses pendidikan merupakan proses refleksi dan aksi (praksis)terhadapa seluruh tatanan dan relasi social dari sistem dan struktur social dan bagaimana perannya, cara kerjanya dalam menyumbangkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan social. Karena tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur yang diskriminatif terhadapa kaum yang tertindas dan kaum yang tersingkirkan seperti kaum miskin, kaum buruh, para penyandang cacat atau mereka yang memiliki kemampuan berbeda, kaum perempuan, anak-anak serta bagaimana melakukan proses dekonstruksi dan berbagai aksi praktis maupun strategis menuju sistem social yang sensitive dan non diskriminatif.
Pendidikan kritis sangat memerlukan perspektif kelas dalam melakukan analisis dalam proses pendidikan, karena analisis kelas memberi perangkat dalam rangka memahami sistim ketidakadilan social. Hampir semua golongan masyarakat menjadi korban dari ketidakadilan kelas, namun karena mayoritas yang menjadi Koran ketidakadilan kelas adalah masyarakat bawah, maka seolah-olah analisis kelas hanya menjadi alat perjuangan bagi golongan miskin. Analisis kelas mestinya bisa menjadi media untuk membongkar sistem ketidakadilan social secara luas. Tanpa analisis kelas, perubahan social menjadi reduksionisme, dimana lebih memusatkan perhatian pada manusisnya saja. Lebih lanjut analisis kelas membantu memahami bahwa laki-laki dan perempuan mengalami dehumanisasi, kaum buruh mengalami dehumanisasi disebabkan eksploitasi, sementara kelas ‘menengah’ sebagai penyelenggara eksploitasi juga mengalami dehumanisasi karena melanggengkan eksploitasi. Baik pengeksploitasi, penyelenggara eksploitasi maupun yang dieksploitasi memrlukan proses yang membebaskan mereka dari sistem yang tidak adil tersebut. Maka proses pendidikan yang mengabaikan realitas kelas social akan kehilangan makna pemberdayaan dan pembebasannya.
Analisis kelas dalam proses pendidikan memfokuskan pada relasi struktur social ketimbang hanya memfokuskan pada korban eksploitasi. Dengan demikian yang menjadi agenda utama pendidikan kritis tidak sekedar menjawab “kebutuhan praktis” untuk mengubah kondisi golongan miskin, melainkan juga menjawab kebutuhan strategis golongan miskin, yakni memperjuangkan perubahan posisi golongan miskin, termasuk konter hegemoni dan konter wacana terhadap ideology sosial yang telah mengakar dalam keyakinan.
Konsep hegemoni yang diwariskan oleh Antonio Gramsci, yakni hegemoni terjadi apabila golongan masyarakat yang tertindas, tereksploitasi secara suka rela mengabdi pada penindasannya. Konsep ‘hegemoni’ merupakan proses penjinakan budaya dan ideology kaum tertindas dan tereksploitasi untuk ‘concern’ dan mengabdi secara sukarela kepada para penindas mereka.27 Dalam proses tersebut para pendidik secara tidak sadar justru berperan sebagai pelaksana hegemoni dari penguasa Negara maupun ekonomi. Sehingga prosesw pendidikan tidak dapat lagi dilihat sebagai proses pengajaran yang netral dan bebas nilai. Apalagi rezim penguasa ekonomi dan modal banyak sekali mengeluarkan biaya bagi penyelenggaraan bentuk pendidikan dalam rangka membangun kepentingan sejak dini dari penjinakan ideology sampai dengan untuk melariskan dagangannya. Oleh karena itu pendidikan senantiasa menjadi arena yang menarik diperebutkan. Pertanyaan maupun pernyataan bahwa “pendidikan tanpa kesadaran kritis terhadap hegemoni dominant, pada dasarnya mengelabui kenyataan.



Warisan Foucault Pada Pendidikan Kritis

Pengaruh lain yang mewarnai pada aliran pendidikan kritis diantaranya juga warisan pemikiran Foucault. Bagi perkembangan pengetahuan, kelihatannya yang paling dekat adalah mewarnai ilmu-ilmu social khususnya sosiologi dan praktek perubahan social, meskipun terdapat indikasi kuat pengaruh pemikiran Foucault dalam bidang sastra dan arsitektur. Pikiran Foucault berpengaruh terhadap perkembangan “Post-modern Sociology” yakni suatu analisis terhadap masyarakat modern dengan menggunakan konsep dan perspektif post-modern. Secara substansial sesungguhnya Foucault membuat sosiologi lebih sensitive terhadap ‘power relation’ atau relasi kekuasaan dan bagaimana dominasi bekerja dalam relasi kekuasaan (power), teranyam pada setiap aspek kehidupan serta kehidupan pribadi, pikiran tersebut menantang ilmu sosiologi yang cenderung memisahkan dan mengabaikan “kekuasaan” dalam dunia ilmu pengetahuan, dan berasumsi pengetahuan itu netral, objektif dan tak berdosa. Sosiologi yang cenderung menganggap bahwa akar kekuasaan terletak pada negara ataupun kelas, dianggap oleh Foucault sebagai mengingkari kenyataan, karena baginya relasi kekuasaan terjadi pada hamper setiap aspek kehidupan sehari-hari. Konsep dan pikiran tentang kekuasaan (power)ini memberikan pengaruh besar tentang bagaimana aspek dan pusat lokasi dari kekuasaan serta bentuk perjuangan untuk membatasi dan bagaimana berbagi kekuasaan. Jika umumnya pemikiran kekuasaan hanya tertuju pada Negara dan kelas elit, maka Foucault membuka kamungkinan untuk membongkar semua dominasi dan relasi kekuasaan, seperti kekuasaan dalam pengetahuan antara pencipta diskursus, birokrat, akademisi dan rakyat miskin jelata yang “tidak beradab” yang harus didisiplinkan, diregulasi dan “dibina”. Kaum feminis juga mendapat legitimasi untuk membongkar dominasi dan relasi kekuasaan “gender” antara lelaki dan perempuanyang sejak lama tidak mendapat perhatian dari filasafat social. Foucault juga memberi pengaruh terhadap relasi kekuasaan antara birokrat dan intelektual universitas yang “modern, ilmiah dan positivistic” dan masyarakat adapt atau masyarakat “awam” yang ‘tradisional suku terasing, perambah hutan, tidak ilmiah, tahayul, tidak bisa mengelola sumber daya alam dan belum berbudaya, yang perlu dibudayakan”. Pikirannya tentang kekuasaan bahkan menyadarkan orang akan relasi ‘kekuasaan’ antara penganut agma-agama barat yang turun dari langit dan merupakan “kebenaran” dengan keyakinan dan kepercayaan teologi lokal, ‘pagan’ dan ‘animisme’, yang perlu diselamatkan.
      Pendek kata pandangannya memberi pengaruh besar pada pendidikan kritis sehingga melahirkan apa yang dikenal dengan pendidikan sebagai konter terhadap diskursus dominant yang memberi inspirasi pada gerakan budaya perlawanan. Apa yang disebutnya sebagai ‘genealogy’ membawa pengaruh pada pendidikan kritis mendorong pada pemberdayaan lokal dan akar rumput melalui penyembuhan atau pemuliaan pengetahuan masyarakat yang ‘ditundukkan’ (subjugated) dan diskualifikasi oleh kekuasaan/ pengetahuan yang dominant. Maka pengetahuan mungkin bisa menjalankan tugas transformasi kalau pengetahuan membongkar dan menghentikan relasi kekuasaan. Suatu analisis yang dikenal dengan “Discourse analysis”. Jika Karl Marx dikenal karena teori analisis kelasnya yang memfokuskan analisisnya pada suatu proses bagaimana eksploitasi (apropriasi) nilai lebih (surplus value) terjadi dalam rangka akumulasi capital, maka Foucault namanya diasosiasikan dengan discourse analysis, yang membongkar relasi kekuasaan dan dominasi pada suatu konsep atau wacana, karena konsepsi dan wacana baginya memang tidak pernah netral, objektif dan bebas nilai.Pendidikan sudah lama menjadi penyelengara dan melanggengkan dominasi melalui diskursus yang ada dalam pengetahuan modernisasi. Bahkan banyak proses pendidikan yang diselenggarakan oleh kalangan NGO, juga aktivis pemberdaya rakyat lainnya tanpa mereka sadari ternyata menjadi bagian dari penundukan masyarakat serta menjadi bagian dari diskursus modernisasi dan pembangunan model Neo-Liberalisme. Oleh karena itu perspektif pendidikan kritis secara sadar, menjadi bagian dari proses konter terhadap diskursus dominant.

Pendidikan Kritis Sebagai Warisan Paradigma Pembebasan
Pendidikan kritis merupakan kelanjutan dari gerakan pembebasan. Maka dalam perspektif pendidikan kritis, “pembebasan” pada dasarnya dua hal yang tak bisa dipisahkan, dan bahkan boleh dikatakan bahwa pada dasarnya hakekat seni adalah pembebasan. Kata “pembebasan” dalam pendidikan kritis mewarisi semangat pembebasan yang memiliki konteks makna dari satu formasi social ke formasi social lainnya. Sesuai dengan konteks dan bentuk penindasan dan ketidakadilan di zamannya. Pada zaman kolonialisme misalnya diskursus tentang pembebasan yang sering diungkapkan oleh tokoh seniman, sastrawan dan budayawan zaman itu lebih memberi makan bahwa pembebasan dalam konteks kemerdekaan dipahami sebagai lepas dari penjajahan kolonialisme. Akan tetapi diskursus pada era ketergantungan pasca kolonialisme, dimana penderitaan rakyat justru diakibatkan bentuk penindasan melalui proses pemiskinan akibat dari penerapan paham “developmentalisme”, yang bersandar pada paham modernisasi. Para seniman dan budayawan merespon penindasan model seperti itu dalam diskursus pembebasan dalam konotasi yang berbeda pula. Sehingga pada era itu diskursus pembebasan (liberation) lebih berdimensi pembebasan kaum miskin tertindas di grasroot.
      Ambil contoh Gustavo Guiterez tokoh “Teologi Pembebasan” dunia selatan asala Guatemala, justru memaknakan ajaran teologinya bagi pembebasan spiritual dan sosio-kultural golongan yang dimarjinalkan oleh ‘pembangunan’. Oleh karena itu bagi Guiterez konsep pembebasan diberi pengertian lebih sebagai ekspresi dari aspirasi rakyat miskin kaum tertindas, yang dikaitkan sebagai proses relasi konflik ekonomi, social dan politik yang tidak adil dengan Negara-negara kaya dan kelas elit di Negara-negara pinggiran. Jelas paham pembebaxsan seperti ini erat kaitannya dengan refleksi dan analisis social terhadap formasi social yang dianggap memiskinkan rakyat jelata di dunia Selatan. Dengan demikian konsep teologi pembebasannya tidak bisa dipisahkan dari kerangka dan konteks pemikiran “teori ketergantungan” (dependency theories) yang berkembang subur pada tahun 70-an di Amerika Latin dan Amerika Selatan. Sungguh pun demikian, di tempat lain dalam konteks agama yang berbeda, seperti Teologi Pembebasan Islam maupun Teologi Pembebasan bagi masyarakat Hindu dan Budha di Asia selatan28 ternyata teologi untuk pemebebasan juga muncul dalam berbagai gerkan social politik. Di Amerika latin misalnya, dimana gerkan itu pertama kali muncul, justru praktek teologi pembebasan muncul dalam bentuk gerakan social (social movement) seperti Basic Christian Communities yang merupakan gerakan dengan alasan spiritual keagamaan maupun alasan social politik yakni mempertahankan diri dari penggusuran dan peminggiran.
      Semangat pembebasan dalam pendidikan kritis juga juga belajar dari pemikir lain yang juga menaruh perhatian terhadap ‘pemebebasan’ dalam konteks yang lain. Pemikir kritik sosial Erich From misalnya, meletakkan dasar teori pembebasan dari perspektif psikologi kritik. Dalam jaryanya yang diberi judul Fear From Freedom (1942) dan Beyound the Chains of Illusion (1962) menyediakan argumen permulaan yang baik sekitar psikologi pembebasan yang dapat digunakan untuk memahami gerakan pemebebasan rakyat tertindas di Selatan. Analisis psikologi dan politiknya mengenai tumbuhnya mentalitas borjuasi dan kaitannya dengan etika agamis konservatif dan sumbangannya terhadap berfungsinya kapitalisme. Baginya sebagian besar orang mudah beradaptasi dengan masyarakat industri kapitalisme telah kehilangan kepribadian asli dan spontanitas mereka, sehingga menderitalantaran gagal mendapatkan kebahagiaan dan aktualisasi diri akibat dari kesepian dan ketakberdayaan sebagai konsekuensi dari “alienasi” dari sistem industri. Pembebasan dalam konteks keterasingan manusia dalam sistem kapitalisme tersebut adalah jika manusia dapat mengkaitkan diri secara spontanitas kepada dunia cinta dan karya dalam ekspresi emosional,sensasional dan kapasitas intelektual yang asli sehingga dapat bersama manusia, alam dan diri mereka tanpa kehilangan kemerdekaan dan integritas pribadinya.
      Frantz Fanon salah seorang pemikir “psikologi bagi kaum tertindas” dari Afrika pada era pasca kolonialisme juga telah menyumbangkan dasar bagi argument kaitan antara pendidikan dan pembebasan. Dalam salah satu karyanya yang berjudul The Wretched of Earth (1961) pada dasarnya menyimpan berbagai pemikiran dan analisisnya mengenai psikologi pembebasan. Buku yang ditulis pada era pasca kolonialisme dalam konteks negara-negara Afrika tersebut memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana mentalitas para elit, kaum borjuasi dan bahkan rakyat jelata dari bangsa-bangsa maupun bekas terjajah. Fanon secara baik melakukan analisis kritis terhadap para elit dan kelas menengah dari bangsa-bangsa yang tengah memasuki era neo-kolonialisme pasca penjajahan yang disebutnya menderita kemalasan dean ketamakan intelektual. Mereka dalam posisi yang diuntungkan oleh kolonialisme dan berkesempatan menikmati pendidikan di universitas dan menerima pendidikan bangsa-bangsa penjajah, setelah berakhirnya kolonialisme, bukannya menularkan pengetahuan dan pendidikan kritis kepada rakyat jelata, sebaliknya para elit tersebut justru meneruskan relasi neo-kolonialisme dan terus menjual negeri mereka bahan mentah murah bagi perkembangan industri Negara bekas penjajah mereka. Bahkan mereka membangun tempat-tempat peristirahatan mewah untuk menampung liburan bangsa bekas penjajah mereka, mereka bergaya, berpakiaian dan berselera meniru selera bangsa yang menjajah mereka. Oleh karena itu Frantz Fanon sangat meragukan manfaat dan adanya kebaikan para kelas menengah dan elit borjuasi bangsa neo-kolonial bagi kesejahteraan ataupun pemberdayaan dan pendidikan kesadaran kritis bagi rakyat keseluruhan. Atas dasar analisisnya terhadap psikologi para borjuasi bangsa bekas terjajah itulah, selanjutnya Fanon mengembangkan gagasannya mengenai pembebasan dimana tema sentral gagasan pembebasannnya berfokus dan memprioritaskan pada pembebasan atau liberasi manusisa bangsa terjajah dari mentalitas colonial atau “colonial mind” tersebut.
      Ketika harus menjawab pertanyaan bagaimana proses pembebasan dilakukan, Fanon memfokuskan gagasannya melalui pendidikan politik rakyat untuk membangun budaya nasional bangsa sebagai alternative sekaligus sebagai sarana untuk melakukan aksi perlawanan cultural terhadapa budaya penjajah yang pada zaman dan konteks pada waktu gagasan itu dikembangkan adalah budaya barat. Dalam konteks inilah untuk pertama kalinya di Afrika pengembangan kultur lokal menjadi arena strategis untuk kemerdekaan. Disinilah seni selanjutnya dilihatnya sebagai media aksi cultural untuk perlawanan budaya yang strategis. Gagasan ini sekali lagi memberi validitas terhadap seni dan para seniman dalam pendidikan politik untuk aksi cultural. Dalam konteks zaman dan formasi social yang berbeda dimana lawan dan sumber kesengsaraan, proses peminggiran serta proses pemiskinan rakyat bersumber dari menguatnya sistem kapitalisme global (globalisasi) dan berkembangnya budaya kekerasan akibat dari jeratan sistem dan struktur budaya militerisme, maka Frantz Fanon sesungguhnya mendorong untuk memberikan ruang bagi perkembangan dan peran seni budaya, maupun peran seniman dalam proses aksi cultural untuk membangun kesadaran kritis melawan budaya kekerasan dan budaya dominasi menjadi sangat relevan.
      Akhirnya, tradisi pendidikan kritis juga sangat berhutang pada Paulo Freire sebagai peletak dasar filosofinya. Freire tokoh pendidikan kritis yang meletakkan dasar “pendidikan bagi kaum tertindas” asal Brazil memberikan makna pembebasan lebih ditekankan pada kebangkitan kesadaran kritis masyarakat. Dengan kata lain bagi Freire mengumgkapkan bahwa hakekat ‘pembebasan’ adalah suatu proses bangkitnya “kesadaran kritis” rakyat terhadapa sistem dan struktur social yang menindas. Pembebasan bagi mereka tidak saja terbebas dari kesulitan aspek material saja, tapi juga adnya ruang kebebasan dari aspek spiritual, ideology maupun cultural. Dijelaskannya bahwa sesungguhnya rakyat memerlukan tidak saja bebas dari kelaparan, tetapi juga “bebas” untuk mencipta dan mengkonstruksi dan untuk bercita-cita.
      Meskipun pendidikan yang dikembangkan oleh Freire mulanya dikembangkan dan dipraktekkan dalam rangka bagi pembebasan buta huruf, namun meningkatkan kesadaran kritis (critical consciousness) atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai proses ‘konsientitasi’ merupakan hakekat pendidikan Freire. Analisis Freire berangkat dari kajiannya terhadap bagaimana proses dominasi budaya dan politik terhadap rakyat telah melahirkan ideology rakyat tertindas sebagai akibat dari hegemoni. Oleh karenanya dalam mengembangkan pemikiran ideologi pendidikannya Freire memulai dengan mengkaji watak budaya dari tiga kernagka kesadaran ideologi masyarakat tertindas.29 Sesungguhnya Paulo Freire lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan, namun kerangka analisisnya banyak digunakan justru untuk melihat kaitan ideologi perubahan social pada pemberdayaan masyarakat. Tema pokok gagasan Freire sesungguhnya mengacu pada suatu landasan keyakinan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan “proses memanusiakan manusia kembali”. Gagasan ini berangkat dari suatu analisa bahwa sistem kehidupan social, politik, ekonomi dan budaya membuat masyarakat mengalami suatu proses “dehumanisasi”. Pendidikan sebagaimana dipraktekkan di sekolah-sekolah, sebagai bagian dari sistem masyarakat justru pada kenyataannay menjadi pelanggeng proses dehumanisasi tersebut. Secara rinci Freire menjelaskan proses dehumanisasi tersebut dengan menganalisis tentang kesadaran atau pandangan hidup masyarakat terhadap diri mereka sendiri.
      Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pandangan filsafat pendidikan Freire bermula dari kritiknya terhadap praktek pendidikan di dunia dewasa ini, yakni yang disebutnya sebagai “banking concept of education”. Murid dalam proses pendidikan model bank yang dipraktekkan di sekolah-sekolah lebih menjadi objek pendidikan, mereka pasif dan hanya mendengar, mengikuti, mentaati dan mencontohi para guru. Praktek pendidikan seperti itu, bagi Freire tidak saja bersifat menjinakkan, tetapi bahkan lebih jauh merupakan proses dehumanisasi dan penindasan. Sebagai antitesis Freire selanjutnya mengembangkan suatu pendidikan yang tidak saja mentransformasikan hubungan guru dan murid lebih membebaskan, serta meletakkan dasar konsep pendidikan yang memposisikan justru murid sebagai subjek pendidikan dengan tidak saja memperkenalkan berbagai metodologi dan praktek hubungan pendidikan yang bersifat membebaskan, namun juga membangkitkan kesadaran kritis warga belajar terhadap ketidakadilan sistemik. Proses dan metodologi pendidikan konsientisasi ini telah mempengaruhi berbagai praktek pendidikan pendidikan politik rakyat tertindas di Dunia Selatan. Konsientisasi juga berpengaruh ke aspek kehidupan lainnya dan salah satunya berpengaruh ke arena kesenian dan kebudayaan, maka lahirlah kesenian untuk kaum tertindas.    

                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar